Selasa, 03 Februari 2015

senyum

hahaha....

hanoman


Alkisah negara hastina geger kembali karena kedatangan raja sosrowindu yang menginginkan menjadi senopati hastina mewakili kurawa. Prabu Duryudana menerima prabu Sosrowindu karena atas usulan resi Durna karena prabu sosrowindu itu adalah termasuk murid dari resi Dorna.
Prabu Sosrowindu memiliki sarat akan mau membantu kurawa memusnahkan pandawa jika dia diberi kesempatan membunuh musuh bebuyutanya yaitu prabu Baladewa.tentu saja sarat ini membuat gempar para Kurawa karena memang prabu Baladewa terkenal dekat dengan pihak hastina. Patih sengkuni pun bahkan memberikan usulan agar tidak membuat kasus dengan sesama barisan kurawa karena dikuatirkan membuat barisan kurawa tidak solid dalam menghadapi barata yudha jaya binangun.
Tapi resi dorna membela prabu soro windu. Dia berkata bahwa baladewa tidak loyal kepada kurawa. Dia memeberikan alasan sering prabu mandura itu tidak datang kalo ada paseban agung di kerajaan hastina seperti hari itu. Ini menandakan ketidak setiaan baladewa. Prabu sosro windu meyakinkan bahwa permintaanya itu adalah sewajarnya sebagai bentuk balas dendam atas gugurnya ayahnya kangsadewa ditangan baladewa. Karena itu wajar saja jika dia meminta sarat kematian baladewa.
Prabu duryodana bingung. Dia bertanya kepada raja anga karna. Raja anga berkata bahwa sebaiknya permintaan itu diloloskan dengan sarat jika tidak berhasil maka sosro windu harus dibunuh atau menerima hukuman mati karena membuat geger di kubu kurawa menjelang barata yudha. Ditakutkan barisan kurawa justru menjadi tidak solid karena kejadian ini. Tapi jika berhasil maka sosro windu akan langsung diangkat menjadi senopati. Dengan pertimbangan berhasil membunuh prabu baladewa berarti memiliki kesaktian tinggi dan bisa digunakan menumpas pandawa dalam perang barata yudha…
Pasukan sosrowindu bergerak ke mandura setelah mendapat persetujuan prabu  duryudana. Sementara itu wadya bala kurawa dibawah pimpinan raja anga karna menyusul dengan misi mengangkat sosro windu kalo berhasil dan menghukum langsung kalo gagal. Pasukan sosrowindu diikuti oleh resi dorna sedang pasukan kurawa dikawal patih sengkuni. Sebelum masuk ke tapal batas mandura resi dorna berbincang dengan sosrowindu. Dia bertanya sebaiknya menggunakan cara apa menghadapi prabu mandura itu, cara diam diam atau cara keras.
Cara keras adalah dengan membawa wadya bala pasukan sosro windu langsung melabrak mandura dan menantang prabu baladewa secara langsung. Cara ini akan mengakibatkan pertumpahan darah besar-besaran di kedua belah pihak. Cara kedua adalah dengan menggunakan cara diam-diam, cara apus-apus atau licik. Dengan cara sang resi masuk ke sitinggil mandura dan bertemu langsung dengan prabu baladewa, untuk diajak ke negeri hastina dengan tujuan nanti setelah mau di tengah jalan dikeroyok sampai tewas. Prabu sosro bahu mensetujui cara yang kedua.
Di sitinggil mandura datang gatotkaca. Gatotkaca datang meminta prabu baladewa untuk datang ke ngamarta karena permintaan dari semua pandawa dan adiknya kresna. Hal ini dimaksudkan untuk mengganti sementara posisi kresna yang sedang bertapa di wukir untuk mendapatkan wahyu kemenangan bagi pandawa dalam perang baratayudha.
Prabu baladewa menerima ajakan gatotkaca. Dia sekaligus menceritakan bagaimana keadaan hastina. Dia merasa bahwa prabu sosrowindu musuh lamanya itu mulai mendapat hati di kalangan kurawa karena itu baladewa berniat untuk keluar dari lingkup kekuasaan dan persahabatan dengan kurawa. Belum selesai prabu baladewa berucap tiba tiba datang menghadap resi dorna.
Resi dorna menghaturkan sembah. Kedatangan resi dorna di dampingi sengkuni. Resi dorna berbisik-bisik kepada sengkuni sambil melihat ke arah gatotkaca. Mereka sibuk berbisik bisik tentang kemungkinan baladewa berhianat pada kurawa dengan hadirnya kesatria pringgodani di sitinggil mandura. Resi dorna segera mengucapkan maksud kedatanganya kepada prabu baladewa yaitu bermaksud mengundang sang prabu baladewa ke sitinggil hastinapura untuk menghadiri paseban agung yang diadakan prabu duryudana.
Prabu baladewa tanpa basa basi menolak undangan itu sambil mengatakan alasan kenapa menolak undangan para kurawa yaitu karena kabar telah tersiar bahwa musuhnya prabu sosro windu telah diangkat menjadi senopati di hastina, sedang sosrowindu adalah musuh bebuyutan sang prabu baladewa. Resi dorna berusaha meyakinkan prabu baladewa tapi gagal bahkan ahirnya terjadi adu jotos yang berahir koncatnya sang resi dorna keluar sitinggil.
Gatotkaca disuruh oleh baladewa untuk menghadapi resi dorna. Perang terjadi dan berkali kali resi dorna harus mundur menghadapi kesaktian sang satria pringgondani. Karena terus menerus terdesak resi dorna memanggil prabu sosro windu. Dalam pertempuran pertama prabu sosro windu terpental jauh kebelakang dan harus mengakui kekuatan gatotkaca. Ahirnya dia mengambil senjata pusakanya yaitu panah kemlandingan putih. Panah ini berubah menjadi rantai super kuat yang melilit tubuh gatot kaca. Seketika gatotkaca tak berdaya dan dibawa ke hastina untuk dimasukan ke dalam penjara.
Mendengar gatotkaca dikalahkan maka baladewa naik darah. Dia segera turun laga. Dibawanya senjata nanggalanya yang sanggup menggempur gunung. Mengetahui kedatangan baladewa prabu sosro windu menjadi waspada. Apalagi kelebat nanggala membuat jantung sosro windu ketar ketir. Ahirnya setelah bisa mengambil jarak yang cukup prabu sosro windu menembakan senjata kemlandingan putihnya dan terlilitlah tubuh baladewa tak berdaya. Sebelumnya prabu sosrowindu hendak membunuhnya tapi oleh dorna dicegah karena mengetahui bahwa baladewa punya adik batara kresna yang mempunyai kembang wijaya kusuma yang mampu menyembuhkan penyakit apapun, bahkan mampu menghidupkan orang mati. Jika baladewa dibunuh tentu akan sangat mudah bagi kresna untuk menghidupkanya kembali. Maka cara satu satunya adalah meringkus kresna yang sedang semedi di gunung wukir.
Baladewa dibawa dan dimasukan tahanan di hastina. Pasukan sosro windu bergerak ke gunung wukir bersama resi dorna. Pasukan dengan cepat masuk ke dalam daerah yang dikenal angker dan tak pernah dikunjungi manusia itu.
Sementara di pertapan gunung wukir telah bersiaga sepasukan dari dwarawati yang mengikuti dan mengawal prabunya yaitu prabu sri kresna. Dipimpin oleh patih udawa, patih setyaki dan resi mayangkoro hanoman. Mereka tampak bersiaga penuh agar tak terjadi sesuatu yang dapat menggagalkan tapa junjunganya.
Tiba tiba tempat pertapaan dikepung pasukan sosro windu. Resi mayangkoro maju dan menghadang dengan gagah. Setelah bertempur sedemikian lama dan susah dan setelah mundur terdesak maka sosro windu mengeluarkan ajian sepi anginya. Langsung keluar badai dahsyat yang menghantam resi mayangkoro anoman. Anoman mencelat kontal sejauh jauhnya. Melihat anoman kontal sang setyaki maju. Dia melawan dengan ganas sosro windu. Pertarungan terjadi seimbang. Dan lagi-lagi kemlandingan putih membuat setyaki tak berdaya dan dibawa sebagai tawanan ke tahanan hastina pura.
Melihat setyaki kalah maka resi mayangkoro memberi perintah kepada patih udawa dan prajurit dwarawati untuk menyingkir dan meminta bantuan ke ngamarta.
Di dalam pertapaan prabu kresna menekung, meditasi dan melepaskan sukma sedjatinya. Sukmanya melayang hendak menemui dewata. Sebelum lepas sukmanya dia berpamitan kepada badan wadagnya, sang raga sedjati. Dan bersamaan dengan itu masuklah sosro windu ke dalam pertapaan. Durna menyuruh sosro windu membangunkan sang kresna. Ternyata ditemukan bahwa wadag kresna telah kosong tanpa nyawa. Maka resi dorna mempunyai akal baru. Disuruhnya sosro windu mengambil pakaian kresna berikut semua senjatanya termasuk senjata cakra dan kembang wijaya kusuma dan berganti rupa menjadi kresna untuk pergi ke ngamarta dan menipu para pandawa agar mau mengalah menyerahkan kerajaan kepada duryudana.
Tubuh krisna yang sudah diacak acak pakaianya itu ternyata masih terdapat lima anasir dan juga empat nafsu. Maka tiba tiba sang tubuh yang dipanggil raga jati itu menangis sekaligus marah dan menjelmalah tubuh tanpa sukma sedjati kresna itu menjadi seekor singa besar yang berwarna hitam mulus. Singa ini memiliki keinginan untuk menyelamatkan para pandawa dari reka daya prabu sosro windu yang telah berubah wujud menjadi krisna. Maka sang singa ini pergi ke istana kurawa dan berdiam bersembunyi di gerumbul dekat istana hastina mengawasi kalo-kalo pandawa datang terbujuk dia bermaksud mencegahnya.
Cerita berlanjut, krisna gadungan sampai di ngamarta. Disana dia berkata bahwa hasil semedi menyatakan bahwa tidak boleh terjadi pertumpahan darah dan jalan satu satunya adalah menyerahkan tuntutan negara hastina sepenuhnya kepada raja duryudana. Seperti biasa puntadewa menyetujui, karena di depan mereka yang tampak adalah krisna maka bima, arjuna, nakula setuju. Sementara sadewa saja yang tak menyetujui dan kabur dari sitinggil karena menolak permintaan saudara saudaranya merelakan tuntutan atas negara hastina.
Sadewa minta perlindungan pada semar. Sementara bima yang murka menyuruh anaknya antaredja menyusul sang sadewa. Semar yang bijak sadar dan tahu bahwa itu bukan krisna tapi prabu sosrowindu yang beralih rupa maka dia bertekad melindungi sadewa dari salah paham. Raden antaredja datang dan disongsong punakawan. Antaredja berhadapan dengan petruk. Oleh petruk antaredja diobat abitkan seperti kertas dan raden antaredja sampai menjerit tobat. Tapi setelah diturunkan oleh petruk antaredja tak mau mundur dia malah menyungut sekujur tubuh petruk. Petruk yang kewalahan mundur.
Bagong maju dengan taktik melumuri tubuhnya dengan lumpur. Pertama antaredja melihat itu tak mau menyungut, tapi setelah dilihat mata bagong tidak tertutup lumpur matanya disungut. Ahirnya mata bagong diteplok lumpur juga dan antaredja kewalahan diusel usel oleh bagong sampai bajunya dan tubuhnya penuh lumpur. Datang werkudoro dengan marah dan berlarian semua punakawan.
Sadewa tetap tak mau menyerah dan tunduk pada permintaan krisna palsu itu. Karena naik pitam maka bima menghajar sadewa dan dilempar jauh.
Alkisah di atas langit sukma sedjati kresna bertemu batara guru. Batara guru menyanggupi akan menurunkan wahyu kemenangan baratayudha di kurusetra. Kresna pun hendak turun dan dia mendapat kabar bahwa telah terjadi keributan di dunia yang bakal mengancam kelangsungan perang baratayudha jika puntadewa dan pandawa rela melepas tuntutan atas negeri hastina.
Sementara puntadewa telah berjalan ke negeri hastina. Karena tahu bahwa tubuhnya telah menjadi salah mangsa dan tak mungkin sukma sedjati sang krisna kembali ke wadag saat itu maka batara guru menjadikan sukma sejati krisna menjadi sebuah bentuk baru yang diberi nama begawan sukmo lelono. Dia ditugaskan ke hastina untuk meminta negeri hastina secara paksa dari prabu duryudana.
Dalam perjalanan begawan sukmo lelono bertemu punakawan dan semar. Walau sudah berbentuk sukma, semar dan punakawan mengenalinya. Saat itu mayat sadewa ditemukan menggeletak setelah di sobek oleh kuku lalu dilempar jauh jauh oleh werkudoro. Saat itu segera sadewa disembuhkan dengan kesaktian semar.
Kedatangan begawan sukmo lelono langsung disambut dengan geraman dorna. Dorna meminta begawan keluar dan menunggu keputusan di alun-alun hastina. Sementara di dalam istana dorna meminta kepada pandawa menghabisi nyawa sang begawan. Pandawa setuju.
Arjuna menghadapi sang begawan. Semua senjata coba digunakan, semua ajian di kerahkan bahkan ahirnya pasopati di hantamkan malah bebalik. Ahirnya arjuna mundur dan minta kakaknya werkudoro maju. werkudoro pun sama, mengalami kesulitan menghadapi begawan sukmo lelono.
Ahirnya prabu kresna jelmaan sasrawindu maju. Dan terjadilah adu kesaktian dengan begitu hebatnya. Saat itu macan hitam jelmaan tubuh ragawi sang kresna muncul dan menyergap prabu kresna jelmaan. Dan dalam sekejab macam hitam itu bersatu dengan begawan sukmo lelono. Maka terbentuklah kembali sosok kresna dan berdiri tegak dua sosok kresna di alun-alun hastinapura yang luas itu. Semua tak berkedip memandang.
Dua kresna beradu dan salah satu kresna jatuh kemudian mengeluarkan senjata cakra. Senjata cakra dilemparkan tapi justru kembali ketangan kresna satunya. Mengetahui kedoknya tak mungkin di samarkan lagi, kresna gadungan malih rupa jadi wujud aslinya, prabu sasra windu putra kangsa.
Kresna tampak mengambil jarak agar sang prabu tidak menggunakan senjata kemlandingan putihnya. Sasra windu yang merasa terancam mengeluarkan senjata andalanya dan ketika siap mengarahkan pusakanya, hanoman sang resi mayangkara datang dan menghantamkan batu sebesar bukit ke arah sasra windu. Sasra windu mati gepeng berurai menjadi darah.
Oleh kresna hanoman disuruh bertapa sambil menjaga pusaka kemlandingan putih untuk diserahkan kepada anak keturunan pandawa kelak. Semua tahanan dibebaskan, termasuk prabu baladewa, gatotkaca dan juga setyaki
SEMAR MBABAR JATIDHIRI – Ki Timbul Hadi Prayitno
:Ana teja sumorot sundhul ing ngawiyat tak prepegi ilang wujuding teja, ana wong bagus!! Wong bagus, ngakua sapa jeneng, sapa jeneng, ngendi omah!!
:Ora mangkana pitakonmu ngampyak kaya wong njala, nggetak kaya wong nggusah manuk. Genti aku takon ngendi dhangkamu, sapa pracekamu.
:Babo!! Takoni durung njawab, teka njunjung dhangka, njunjung buta  !!
:Ora katon widadari ing ngarepanku, buta sayekti papane dhangka.
:Senajan aku buta, nanging aku dudu buta sembarangan nanging buta abdining ratu.
:Ratu ngendi ngewulake wong kaya kowe?!
:Andhelen saka negara Manik Imantaka, Ditya Cengklong Puspitanala. Kowe sapa gus?!
:Satrya saka Yawastina, Bambang Sidapeksa kekasihku . . . . . .
Para rawuh sutresnaning ringgit purwa. SAmenika kula aturaken audio saking dhalang ingkang mesthi panjenengan tresnani, mliginipun panjenengan ingkang remen kaliyan ringgit purwa gagrak Mataraman. Ki Timbul Cerma Manggala
Pagelaran ringgit purwa menika kagelar ing kalanipun pemerintahan republik kita taksih salebeting era orde baru. Lha ing mriki, ingkang kagungan kersa menika partai politik penguwaos negeri nalika semanten. Mila mboten bab ingkang aneh, ringgit menika senajana lampahan baku utawi pakem, nanging ing mrika mriki nyrempet propaganda pemerintah ingkang ing wanci rumiyin taksih nedhengipun njembar wiyaraken werdining dhasar negari kita, murih saged waradin katanem ing nglebeting sanubari rakyat Indonesia.
Semar Mbabar Jatidhiri, kalampahan nalika jamanipun sampun dumugi ing jaman sasampunipun lampahan Baratayuda, utawi jaman KalilMataya. Mila para pamiarsa ingkang kepengin mersudi undhaking pengertosan bab jaman wayahipun para Pandhawa, saged tumut sinau lampahan ingkang dipun prangguli para wayah Pandhawa ing Negari Yawastina utawi rumiyin kawastanan Nagari Ngastina.
Nagari tetilaran eyang-eyangipun sampun karebat, nanging kathah para mengsah turun bebuyutan, lumintu anggenipun damel giri-godha. Panggodha wonten ingkang tumindak mbidung api rowang, lan kathah ugi  ingkang blak kotang terus terang.
Cariyosipun, nalika semanten Prabu Parikesit nampi wangsiting jawata, menawi Negari Yawastina ingkang senajana katiti jroning katentreman,  nanging wonten titikan, salebeting katentreman wonten pletiking latu ingkang sawanci-wanci saged mangalad ngobar negari. Mila Prabu Parikesit tekung ing samadi sasampunipun bibar pasewakan. SAlebeting muja brata, Prabu Parikesit nampi wangsiting dewa, negari saged kalis ing rubeda menawi saged mboyongi wangsul Ki Lurah Semar Badranaya ingkang sampun sawetawis wekdal mboten ketingal marak seba.
Kadi sinambering gelap tuna, Prabu Parikesit enget menawi jimat urip kekasihing para eyangipun ingkang dangu mboten ketingal Sasampunipun wudar saking semadi lajeng mendra saking praja nyarirani pribadi ngupadi wulu cumbu jimat urip pamong sejati, inggih menika Kyai Semar Badranaya
Senajana nalikanipun ing Pasewakan sampun ngutus rayinipun,  inggih menika wayah Raden Sadewa utawi putranipun Raden Saluwita ingakang nami Bambang Sidapeksa.  Nanging amargi saking wangsit menika, Prabu Parikesit parikedah linggar saking Praja. Ingering Negari kapasrahaken rumiyin kaliyan Patih njawi Raden Dwara- Putra Raden Samba, lan Patih nglebet, Raden Danurwenda – Putra Raden Antareja. mboten kantun kaembanan dening eyangipun inggih punika Resi Curiganata sepuhipun Resi Jaladara.
Sesarengan ing wanci, Raden Sidapeksa sowan ing Pertapan Kendhalisada papanipun Resi Mayangkara saperlu najihaken ing pundi dununging Jimat urip Pamong sejati. Lan Prabu Parikesit ugi tindak sarira tunggal ngupadi dununging pawongan ingkang sami.
Jengkaripun Prabu Parikesit nyata ndadosaken mengsah salebeting kemul kados dene angsal kalodhangan mbidhung damel kisruh tetreming negari. Putra Raden Jayadrata ingkang ing wadagipun teluk kaliyan Prabu Parikesit, nyatanipun namung tumindak lelamisan.
Ugi, wayahipun Prabu Puntadewa -turun Raden Pancawala- inggih menika Prabu Pancakusuma, ingkang samangke ngedhaton ing Pancala utawi Cempala, kagugah rasanipun, sasampunipun kablithuk-kaapus krama dening parampara Yawastina- Gajaktisura-, turun Kurawa sanesipun lajeng tumut wontening umyeging kisruh.
Nalika samanten Gajaktisura sampun kelampahan urub-urub damel kobaring swasana. Narka menawi ingkang rayi Prabu Parikesit mboten kuwasi ngasta bawat rentengin negari, kapriksan dening Prabu Pancakusuma. Nebah jaja tanpa sengaja, Prabu Pancakusuma. Nanging ambegipun Prabu Pancakusuma ingkang kadunungan pusaka tetilaranipun ingkang eyang wujud sangsangan robyong. Sanalika jleg dados brahala sagunung anakan. Triwikrama Prabu Pancakusuma. Tri tegesipun tiga, wikrama jangkah. Bebasan namung tigang jangkah, wujuding brahala kuwawi muteri jagad. Ngamuk punggung wekasan saking iguh pretikelipun Resi Curiganata, paranpara Yawastina mundur palarasan.
Kocapa Prabu Parikesit ingkang lagya milang miling kaya jangkung. Priksa soroting teja ngganther sasada lanang. Mboten kewran lamun menika tejaning Kyai Badranaya, sigra marepegi dunungipun kang lungguh mengngkruk-mengkruk. Ing mriku para kadang wayah Pandhawa sami kempal midhangetaken Kyai Semar anggenipun mbabar jati dhirining bangsa. Pancasila!!
Sepindhah malih. pagelran menika dipun adani kangge mengeti 50 tahun Indonesia Merdhika. Manggen wonten ing palataran ngajeng gedhong DPP Golkar Slipi ing Sabtu Pon, 3 Juni 1995. Janipun taksih tebih saking ulang tahun Kamardhikan.
Para rawuh, gelaran ringgit purwa menika kairing Karawitan saking Swasta Widya, kanthi pesindhen, Nyi Ngatirah, Nyi Nurani, Nyi Surani lan Nyi Djuminah. Sinaosa kaset sampun rapuh lan sebagian sampun nyuwanten flutter. Nanging semantena, seserepan ingkang kita pikoleh saking pagelaran Ki Timbul menika saged nambahi pangertosan tumraping era post Baratayuda utawi jaman Kalimataya.

Gandheng kaset menika ugi karekam MONO, ing garapan melahi kaset no 2, kula tambahi effek ruang,  supados langkung kung. Sumangga sugeng ngundhuh.
KHS Sasrawindu

Alkisah negara hastina geger kembali karena kedatangan raja sosrowindu yang menginginkan menjadi senopati hastina mewakili kurawa. Prabu Duryudana menerima prabu Sosrowindu karena atas usulan resi Durna karena prabu sosrowindu itu adalah termasuk murid dari resi Dorna.
Prabu Sosrowindu memiliki sarat akan mau membantu kurawa memusnahkan pandawa jika dia diberi kesempatan membunuh musuh bebuyutanya yaitu prabu Baladewa.tentu saja sarat ini membuat gempar para Kurawa karena memang prabu Baladewa terkenal dekat dengan pihak hastina. Patih sengkuni pun bahkan memberikan usulan agar tidak membuat kasus dengan sesama barisan kurawa karena dikuatirkan membuat barisan kurawa tidak solid dalam menghadapi barata yudha jaya binangun.
Tapi resi dorna membela prabu soro windu. Dia berkata bahwa baladewa tidak loyal kepada kurawa. Dia memeberikan alasan sering prabu mandura itu tidak datang kalo ada paseban agung di kerajaan hastina seperti hari itu. Ini menandakan ketidak setiaan baladewa. Prabu sosro windu meyakinkan bahwa permintaanya itu adalah sewajarnya sebagai bentuk balas dendam atas gugurnya ayahnya kangsadewa ditangan baladewa. Karena itu wajar saja jika dia meminta sarat kematian baladewa.
Prabu duryodana bingung. Dia bertanya kepada raja anga karna. Raja anga berkata bahwa sebaiknya permintaan itu diloloskan dengan sarat jika tidak berhasil maka sosro windu harus dibunuh atau menerima hukuman mati karena membuat geger di kubu kurawa menjelang barata yudha. Ditakutkan barisan kurawa justru menjadi tidak solid karena kejadian ini. Tapi jika berhasil maka sosro windu akan langsung diangkat menjadi senopati. Dengan pertimbangan berhasil membunuh prabu baladewa berarti memiliki kesaktian tinggi dan bisa digunakan menumpas pandawa dalam perang barata yudha…
Pasukan sosrowindu bergerak ke mandura setelah mendapat persetujuan prabu  duryudana. Sementara itu wadya bala kurawa dibawah pimpinan raja anga karna menyusul dengan misi mengangkat sosro windu kalo berhasil dan menghukum langsung kalo gagal. Pasukan sosrowindu diikuti oleh resi dorna sedang pasukan kurawa dikawal patih sengkuni. Sebelum masuk ke tapal batas mandura resi dorna berbincang dengan sosrowindu. Dia bertanya sebaiknya menggunakan cara apa menghadapi prabu mandura itu, cara diam diam atau cara keras.
Cara keras adalah dengan membawa wadya bala pasukan sosro windu langsung melabrak mandura dan menantang prabu baladewa secara langsung. Cara ini akan mengakibatkan pertumpahan darah besar-besaran di kedua belah pihak. Cara kedua adalah dengan menggunakan cara diam-diam, cara apus-apus atau licik. Dengan cara sang resi masuk ke sitinggil mandura dan bertemu langsung dengan prabu baladewa, untuk diajak ke negeri hastina dengan tujuan nanti setelah mau di tengah jalan dikeroyok sampai tewas. Prabu sosro bahu mensetujui cara yang kedua.
Di sitinggil mandura datang gatotkaca. Gatotkaca datang meminta prabu baladewa untuk datang ke ngamarta karena permintaan dari semua pandawa dan adiknya kresna. Hal ini dimaksudkan untuk mengganti sementara posisi kresna yang sedang bertapa di wukir untuk mendapatkan wahyu kemenangan bagi pandawa dalam perang baratayudha.
Prabu baladewa menerima ajakan gatotkaca. Dia sekaligus menceritakan bagaimana keadaan hastina. Dia merasa bahwa prabu sosrowindu musuh lamanya itu mulai mendapat hati di kalangan kurawa karena itu baladewa berniat untuk keluar dari lingkup kekuasaan dan persahabatan dengan kurawa. Belum selesai prabu baladewa berucap tiba tiba datang menghadap resi dorna.
Resi dorna menghaturkan sembah. Kedatangan resi dorna di dampingi sengkuni. Resi dorna berbisik-bisik kepada sengkuni sambil melihat ke arah gatotkaca. Mereka sibuk berbisik bisik tentang kemungkinan baladewa berhianat pada kurawa dengan hadirnya kesatria pringgodani di sitinggil mandura. Resi dorna segera mengucapkan maksud kedatanganya kepada prabu baladewa yaitu bermaksud mengundang sang prabu baladewa ke sitinggil hastinapura untuk menghadiri paseban agung yang diadakan prabu duryudana.
Prabu baladewa tanpa basa basi menolak undangan itu sambil mengatakan alasan kenapa menolak undangan para kurawa yaitu karena kabar telah tersiar bahwa musuhnya prabu sosro windu telah diangkat menjadi senopati di hastina, sedang sosrowindu adalah musuh bebuyutan sang prabu baladewa. Resi dorna berusaha meyakinkan prabu baladewa tapi gagal bahkan ahirnya terjadi adu jotos yang berahir koncatnya sang resi dorna keluar sitinggil.
Gatotkaca disuruh oleh baladewa untuk menghadapi resi dorna. Perang terjadi dan berkali kali resi dorna harus mundur menghadapi kesaktian sang satria pringgondani. Karena terus menerus terdesak resi dorna memanggil prabu sosro windu. Dalam pertempuran pertama prabu sosro windu terpental jauh kebelakang dan harus mengakui kekuatan gatotkaca. Ahirnya dia mengambil senjata pusakanya yaitu panah kemlandingan putih. Panah ini berubah menjadi rantai super kuat yang melilit tubuh gatot kaca. Seketika gatotkaca tak berdaya dan dibawa ke hastina untuk dimasukan ke dalam penjara.
Mendengar gatotkaca dikalahkan maka baladewa naik darah. Dia segera turun laga. Dibawanya senjata nanggalanya yang sanggup menggempur gunung. Mengetahui kedatangan baladewa prabu sosro windu menjadi waspada. Apalagi kelebat nanggala membuat jantung sosro windu ketar ketir. Ahirnya setelah bisa mengambil jarak yang cukup prabu sosro windu menembakan senjata kemlandingan putihnya dan terlilitlah tubuh baladewa tak berdaya. Sebelumnya prabu sosrowindu hendak membunuhnya tapi oleh dorna dicegah karena mengetahui bahwa baladewa punya adik batara kresna yang mempunyai kembang wijaya kusuma yang mampu menyembuhkan penyakit apapun, bahkan mampu menghidupkan orang mati. Jika baladewa dibunuh tentu akan sangat mudah bagi kresna untuk menghidupkanya kembali. Maka cara satu satunya adalah meringkus kresna yang sedang semedi di gunung wukir.
Baladewa dibawa dan dimasukan tahanan di hastina. Pasukan sosro windu bergerak ke gunung wukir bersama resi dorna. Pasukan dengan cepat masuk ke dalam daerah yang dikenal angker dan tak pernah dikunjungi manusia itu.
Sementara di pertapan gunung wukir telah bersiaga sepasukan dari dwarawati yang mengikuti dan mengawal prabunya yaitu prabu sri kresna. Dipimpin oleh patih udawa, patih setyaki dan resi mayangkoro hanoman. Mereka tampak bersiaga penuh agar tak terjadi sesuatu yang dapat menggagalkan tapa junjunganya.
Tiba tiba tempat pertapaan dikepung pasukan sosro windu. Resi mayangkoro maju dan menghadang dengan gagah. Setelah bertempur sedemikian lama dan susah dan setelah mundur terdesak maka sosro windu mengeluarkan ajian sepi anginya. Langsung keluar badai dahsyat yang menghantam resi mayangkoro anoman. Anoman mencelat kontal sejauh jauhnya. Melihat anoman kontal sang setyaki maju. Dia melawan dengan ganas sosro windu. Pertarungan terjadi seimbang. Dan lagi-lagi kemlandingan putih membuat setyaki tak berdaya dan dibawa sebagai tawanan ke tahanan hastina pura.
Melihat setyaki kalah maka resi mayangkoro memberi perintah kepada patih udawa dan prajurit dwarawati untuk menyingkir dan meminta bantuan ke ngamarta.
Di dalam pertapaan prabu kresna menekung, meditasi dan melepaskan sukma sedjatinya. Sukmanya melayang hendak menemui dewata. Sebelum lepas sukmanya dia berpamitan kepada badan wadagnya, sang raga sedjati. Dan bersamaan dengan itu masuklah sosro windu ke dalam pertapaan. Durna menyuruh sosro windu membangunkan sang kresna. Ternyata ditemukan bahwa wadag kresna telah kosong tanpa nyawa. Maka resi dorna mempunyai akal baru. Disuruhnya sosro windu mengambil pakaian kresna berikut semua senjatanya termasuk senjata cakra dan kembang wijaya kusuma dan berganti rupa menjadi kresna untuk pergi ke ngamarta dan menipu para pandawa agar mau mengalah menyerahkan kerajaan kepada duryudana.
Tubuh krisna yang sudah diacak acak pakaianya itu ternyata masih terdapat lima anasir dan juga empat nafsu. Maka tiba tiba sang tubuh yang dipanggil raga jati itu menangis sekaligus marah dan menjelmalah tubuh tanpa sukma sedjati kresna itu menjadi seekor singa besar yang berwarna hitam mulus. Singa ini memiliki keinginan untuk menyelamatkan para pandawa dari reka daya prabu sosro windu yang telah berubah wujud menjadi krisna. Maka sang singa ini pergi ke istana kurawa dan berdiam bersembunyi di gerumbul dekat istana hastina mengawasi kalo-kalo pandawa datang terbujuk dia bermaksud mencegahnya.
Cerita berlanjut, krisna gadungan sampai di ngamarta. Disana dia berkata bahwa hasil semedi menyatakan bahwa tidak boleh terjadi pertumpahan darah dan jalan satu satunya adalah menyerahkan tuntutan negara hastina sepenuhnya kepada raja duryudana. Seperti biasa puntadewa menyetujui, karena di depan mereka yang tampak adalah krisna maka bima, arjuna, nakula setuju. Sementara sadewa saja yang tak menyetujui dan kabur dari sitinggil karena menolak permintaan saudara saudaranya merelakan tuntutan atas negara hastina.
Sadewa minta perlindungan pada semar. Sementara bima yang murka menyuruh anaknya antaredja menyusul sang sadewa. Semar yang bijak sadar dan tahu bahwa itu bukan krisna tapi prabu sosrowindu yang beralih rupa maka dia bertekad melindungi sadewa dari salah paham. Raden antaredja datang dan disongsong punakawan. Antaredja berhadapan dengan petruk. Oleh petruk antaredja diobat abitkan seperti kertas dan raden antaredja sampai menjerit tobat. Tapi setelah diturunkan oleh petruk antaredja tak mau mundur dia malah menyungut sekujur tubuh petruk. Petruk yang kewalahan mundur.
Bagong maju dengan taktik melumuri tubuhnya dengan lumpur. Pertama antaredja melihat itu tak mau menyungut, tapi setelah dilihat mata bagong tidak tertutup lumpur matanya disungut. Ahirnya mata bagong diteplok lumpur juga dan antaredja kewalahan diusel usel oleh bagong sampai bajunya dan tubuhnya penuh lumpur. Datang werkudoro dengan marah dan berlarian semua punakawan.
Sadewa tetap tak mau menyerah dan tunduk pada permintaan krisna palsu itu. Karena naik pitam maka bima menghajar sadewa dan dilempar jauh.
Alkisah di atas langit sukma sedjati kresna bertemu batara guru. Batara guru menyanggupi akan menurunkan wahyu kemenangan baratayudha di kurusetra. Kresna pun hendak turun dan dia mendapat kabar bahwa telah terjadi keributan di dunia yang bakal mengancam kelangsungan perang baratayudha jika puntadewa dan pandawa rela melepas tuntutan atas negeri hastina.
Sementara puntadewa telah berjalan ke negeri hastina. Karena tahu bahwa tubuhnya telah menjadi salah mangsa dan tak mungkin sukma sedjati sang krisna kembali ke wadag saat itu maka batara guru menjadikan sukma sejati krisna menjadi sebuah bentuk baru yang diberi nama begawan sukmo lelono. Dia ditugaskan ke hastina untuk meminta negeri hastina secara paksa dari prabu duryudana.
Dalam perjalanan begawan sukmo lelono bertemu punakawan dan semar. Walau sudah berbentuk sukma, semar dan punakawan mengenalinya. Saat itu mayat sadewa ditemukan menggeletak setelah di sobek oleh kuku lalu dilempar jauh jauh oleh werkudoro. Saat itu segera sadewa disembuhkan dengan kesaktian semar.
Kedatangan begawan sukmo lelono langsung disambut dengan geraman dorna. Dorna meminta begawan keluar dan menunggu keputusan di alun-alun hastina. Sementara di dalam istana dorna meminta kepada pandawa menghabisi nyawa sang begawan. Pandawa setuju.
Arjuna menghadapi sang begawan. Semua senjata coba digunakan, semua ajian di kerahkan bahkan ahirnya pasopati di hantamkan malah bebalik. Ahirnya arjuna mundur dan minta kakaknya werkudoro maju. werkudoro pun sama, mengalami kesulitan menghadapi begawan sukmo lelono.
Ahirnya prabu kresna jelmaan sasrawindu maju. Dan terjadilah adu kesaktian dengan begitu hebatnya. Saat itu macan hitam jelmaan tubuh ragawi sang kresna muncul dan menyergap prabu kresna jelmaan. Dan dalam sekejab macam hitam itu bersatu dengan begawan sukmo lelono. Maka terbentuklah kembali sosok kresna dan berdiri tegak dua sosok kresna di alun-alun hastinapura yang luas itu. Semua tak berkedip memandang.
Dua kresna beradu dan salah satu kresna jatuh kemudian mengeluarkan senjata cakra. Senjata cakra dilemparkan tapi justru kembali ketangan kresna satunya. Mengetahui kedoknya tak mungkin di samarkan lagi, kresna gadungan malih rupa jadi wujud aslinya, prabu sasra windu putra kangsa.
Kresna tampak mengambil jarak agar sang prabu tidak menggunakan senjata kemlandingan putihnya. Sasra windu yang merasa terancam mengeluarkan senjata andalanya dan ketika siap mengarahkan pusakanya, hanoman sang resi mayangkara datang dan menghantamkan batu sebesar bukit ke arah sasra windu. Sasra windu mati gepeng berurai menjadi darah.

Oleh kresna hanoman disuruh bertapa sambil menjaga pusaka kemlandingan putih untuk diserahkan kepada anak keturunan pandawa kelak. Semua tahanan dibebaskan, termasuk prabu baladewa, gatotkaca dan juga setyaki.

Minggu, 10 November 2013

semar

Alkisah negara hastina geger kembali karena kedatangan raja sosrowindu yang menginginkan menjadi senopati hastina mewakili kurawa. Prabu Duryudana menerima prabu Sosrowindu karena atas usulan resi Durna karena prabu sosrowindu itu adalah termasuk murid dari resi Dorna.
Prabu Sosrowindu memiliki sarat akan mau membantu kurawa memusnahkan pandawa jika dia diberi kesempatan membunuh musuh bebuyutanya yaitu prabu Baladewa.tentu saja sarat ini membuat gempar para Kurawa karena memang prabu Baladewa terkenal dekat dengan pihak hastina. Patih sengkuni pun bahkan memberikan usulan agar tidak membuat kasus dengan sesama barisan kurawa karena dikuatirkan membuat barisan kurawa tidak solid dalam menghadapi barata yudha jaya binangun.
Tapi resi dorna membela prabu soro windu. Dia berkata bahwa baladewa tidak loyal kepada kurawa. Dia memeberikan alasan sering prabu mandura itu tidak datang kalo ada paseban agung di kerajaan hastina seperti hari itu. Ini menandakan ketidak setiaan baladewa. Prabu sosro windu meyakinkan bahwa permintaanya itu adalah sewajarnya sebagai bentuk balas dendam atas gugurnya ayahnya kangsadewa ditangan baladewa. Karena itu wajar saja jika dia meminta sarat kematian baladewa.
Prabu duryodana bingung. Dia bertanya kepada raja anga karna. Raja anga berkata bahwa sebaiknya permintaan itu diloloskan dengan sarat jika tidak berhasil maka sosro windu harus dibunuh atau menerima hukuman mati karena membuat geger di kubu kurawa menjelang barata yudha. Ditakutkan barisan kurawa justru menjadi tidak solid karena kejadian ini. Tapi jika berhasil maka sosro windu akan langsung diangkat menjadi senopati. Dengan pertimbangan berhasil membunuh prabu baladewa berarti memiliki kesaktian tinggi dan bisa digunakan menumpas pandawa dalam perang barata yudha…
Pasukan sosrowindu bergerak ke mandura setelah mendapat persetujuan prabu  duryudana. Sementara itu wadya bala kurawa dibawah pimpinan raja anga karna menyusul dengan misi mengangkat sosro windu kalo berhasil dan menghukum langsung kalo gagal. Pasukan sosrowindu diikuti oleh resi dorna sedang pasukan kurawa dikawal patih sengkuni. Sebelum masuk ke tapal batas mandura resi dorna berbincang dengan sosrowindu. Dia bertanya sebaiknya menggunakan cara apa menghadapi prabu mandura itu, cara diam diam atau cara keras.
Cara keras adalah dengan membawa wadya bala pasukan sosro windu langsung melabrak mandura dan menantang prabu baladewa secara langsung. Cara ini akan mengakibatkan pertumpahan darah besar-besaran di kedua belah pihak. Cara kedua adalah dengan menggunakan cara diam-diam, cara apus-apus atau licik. Dengan cara sang resi masuk ke sitinggil mandura dan bertemu langsung dengan prabu baladewa, untuk diajak ke negeri hastina dengan tujuan nanti setelah mau di tengah jalan dikeroyok sampai tewas. Prabu sosro bahu mensetujui cara yang kedua.
Di sitinggil mandura datang gatotkaca. Gatotkaca datang meminta prabu baladewa untuk datang ke ngamarta karena permintaan dari semua pandawa dan adiknya kresna. Hal ini dimaksudkan untuk mengganti sementara posisi kresna yang sedang bertapa di wukir untuk mendapatkan wahyu kemenangan bagi pandawa dalam perang baratayudha.
Prabu baladewa menerima ajakan gatotkaca. Dia sekaligus menceritakan bagaimana keadaan hastina. Dia merasa bahwa prabu sosrowindu musuh lamanya itu mulai mendapat hati di kalangan kurawa karena itu baladewa berniat untuk keluar dari lingkup kekuasaan dan persahabatan dengan kurawa. Belum selesai prabu baladewa berucap tiba tiba datang menghadap resi dorna.
Resi dorna menghaturkan sembah. Kedatangan resi dorna di dampingi sengkuni. Resi dorna berbisik-bisik kepada sengkuni sambil melihat ke arah gatotkaca. Mereka sibuk berbisik bisik tentang kemungkinan baladewa berhianat pada kurawa dengan hadirnya kesatria pringgodani di sitinggil mandura. Resi dorna segera mengucapkan maksud kedatanganya kepada prabu baladewa yaitu bermaksud mengundang sang prabu baladewa ke sitinggil hastinapura untuk menghadiri paseban agung yang diadakan prabu duryudana.
Prabu baladewa tanpa basa basi menolak undangan itu sambil mengatakan alasan kenapa menolak undangan para kurawa yaitu karena kabar telah tersiar bahwa musuhnya prabu sosro windu telah diangkat menjadi senopati di hastina, sedang sosrowindu adalah musuh bebuyutan sang prabu baladewa. Resi dorna berusaha meyakinkan prabu baladewa tapi gagal bahkan ahirnya terjadi adu jotos yang berahir koncatnya sang resi dorna keluar sitinggil.
Gatotkaca disuruh oleh baladewa untuk menghadapi resi dorna. Perang terjadi dan berkali kali resi dorna harus mundur menghadapi kesaktian sang satria pringgondani. Karena terus menerus terdesak resi dorna memanggil prabu sosro windu. Dalam pertempuran pertama prabu sosro windu terpental jauh kebelakang dan harus mengakui kekuatan gatotkaca. Ahirnya dia mengambil senjata pusakanya yaitu panah kemlandingan putih. Panah ini berubah menjadi rantai super kuat yang melilit tubuh gatot kaca. Seketika gatotkaca tak berdaya dan dibawa ke hastina untuk dimasukan ke dalam penjara.
Mendengar gatotkaca dikalahkan maka baladewa naik darah. Dia segera turun laga. Dibawanya senjata nanggalanya yang sanggup menggempur gunung. Mengetahui kedatangan baladewa prabu sosro windu menjadi waspada. Apalagi kelebat nanggala membuat jantung sosro windu ketar ketir. Ahirnya setelah bisa mengambil jarak yang cukup prabu sosro windu menembakan senjata kemlandingan putihnya dan terlilitlah tubuh baladewa tak berdaya. Sebelumnya prabu sosrowindu hendak membunuhnya tapi oleh dorna dicegah karena mengetahui bahwa baladewa punya adik batara kresna yang mempunyai kembang wijaya kusuma yang mampu menyembuhkan penyakit apapun, bahkan mampu menghidupkan orang mati. Jika baladewa dibunuh tentu akan sangat mudah bagi kresna untuk menghidupkanya kembali. Maka cara satu satunya adalah meringkus kresna yang sedang semedi di gunung wukir.
Baladewa dibawa dan dimasukan tahanan di hastina. Pasukan sosro windu bergerak ke gunung wukir bersama resi dorna. Pasukan dengan cepat masuk ke dalam daerah yang dikenal angker dan tak pernah dikunjungi manusia itu.
Sementara di pertapan gunung wukir telah bersiaga sepasukan dari dwarawati yang mengikuti dan mengawal prabunya yaitu prabu sri kresna. Dipimpin oleh patih udawa, patih setyaki dan resi mayangkoro hanoman. Mereka tampak bersiaga penuh agar tak terjadi sesuatu yang dapat menggagalkan tapa junjunganya.
Tiba tiba tempat pertapaan dikepung pasukan sosro windu. Resi mayangkoro maju dan menghadang dengan gagah. Setelah bertempur sedemikian lama dan susah dan setelah mundur terdesak maka sosro windu mengeluarkan ajian sepi anginya. Langsung keluar badai dahsyat yang menghantam resi mayangkoro anoman. Anoman mencelat kontal sejauh jauhnya. Melihat anoman kontal sang setyaki maju. Dia melawan dengan ganas sosro windu. Pertarungan terjadi seimbang. Dan lagi-lagi kemlandingan putih membuat setyaki tak berdaya dan dibawa sebagai tawanan ke tahanan hastina pura.
Melihat setyaki kalah maka resi mayangkoro memberi perintah kepada patih udawa dan prajurit dwarawati untuk menyingkir dan meminta bantuan ke ngamarta.
Di dalam pertapaan prabu kresna menekung, meditasi dan melepaskan sukma sedjatinya. Sukmanya melayang hendak menemui dewata. Sebelum lepas sukmanya dia berpamitan kepada badan wadagnya, sang raga sedjati. Dan bersamaan dengan itu masuklah sosro windu ke dalam pertapaan. Durna menyuruh sosro windu membangunkan sang kresna. Ternyata ditemukan bahwa wadag kresna telah kosong tanpa nyawa. Maka resi dorna mempunyai akal baru. Disuruhnya sosro windu mengambil pakaian kresna berikut semua senjatanya termasuk senjata cakra dan kembang wijaya kusuma dan berganti rupa menjadi kresna untuk pergi ke ngamarta dan menipu para pandawa agar mau mengalah menyerahkan kerajaan kepada duryudana.
Tubuh krisna yang sudah diacak acak pakaianya itu ternyata masih terdapat lima anasir dan juga empat nafsu. Maka tiba tiba sang tubuh yang dipanggil raga jati itu menangis sekaligus marah dan menjelmalah tubuh tanpa sukma sedjati kresna itu menjadi seekor singa besar yang berwarna hitam mulus. Singa ini memiliki keinginan untuk menyelamatkan para pandawa dari reka daya prabu sosro windu yang telah berubah wujud menjadi krisna. Maka sang singa ini pergi ke istana kurawa dan berdiam bersembunyi di gerumbul dekat istana hastina mengawasi kalo-kalo pandawa datang terbujuk dia bermaksud mencegahnya.
Cerita berlanjut, krisna gadungan sampai di ngamarta. Disana dia berkata bahwa hasil semedi menyatakan bahwa tidak boleh terjadi pertumpahan darah dan jalan satu satunya adalah menyerahkan tuntutan negara hastina sepenuhnya kepada raja duryudana. Seperti biasa puntadewa menyetujui, karena di depan mereka yang tampak adalah krisna maka bima, arjuna, nakula setuju. Sementara sadewa saja yang tak menyetujui dan kabur dari sitinggil karena menolak permintaan saudara saudaranya merelakan tuntutan atas negara hastina.
Sadewa minta perlindungan pada semar. Sementara bima yang murka menyuruh anaknya antaredja menyusul sang sadewa. Semar yang bijak sadar dan tahu bahwa itu bukan krisna tapi prabu sosrowindu yang beralih rupa maka dia bertekad melindungi sadewa dari salah paham. Raden antaredja datang dan disongsong punakawan. Antaredja berhadapan dengan petruk. Oleh petruk antaredja diobat abitkan seperti kertas dan raden antaredja sampai menjerit tobat. Tapi setelah diturunkan oleh petruk antaredja tak mau mundur dia malah menyungut sekujur tubuh petruk. Petruk yang kewalahan mundur.
Bagong maju dengan taktik melumuri tubuhnya dengan lumpur. Pertama antaredja melihat itu tak mau menyungut, tapi setelah dilihat mata bagong tidak tertutup lumpur matanya disungut. Ahirnya mata bagong diteplok lumpur juga dan antaredja kewalahan diusel usel oleh bagong sampai bajunya dan tubuhnya penuh lumpur. Datang werkudoro dengan marah dan berlarian semua punakawan.
Sadewa tetap tak mau menyerah dan tunduk pada permintaan krisna palsu itu. Karena naik pitam maka bima menghajar sadewa dan dilempar jauh.
Alkisah di atas langit sukma sedjati kresna bertemu batara guru. Batara guru menyanggupi akan menurunkan wahyu kemenangan baratayudha di kurusetra. Kresna pun hendak turun dan dia mendapat kabar bahwa telah terjadi keributan di dunia yang bakal mengancam kelangsungan perang baratayudha jika puntadewa dan pandawa rela melepas tuntutan atas negeri hastina.
Sementara puntadewa telah berjalan ke negeri hastina. Karena tahu bahwa tubuhnya telah menjadi salah mangsa dan tak mungkin sukma sedjati sang krisna kembali ke wadag saat itu maka batara guru menjadikan sukma sejati krisna menjadi sebuah bentuk baru yang diberi nama begawan sukmo lelono. Dia ditugaskan ke hastina untuk meminta negeri hastina secara paksa dari prabu duryudana.
Dalam perjalanan begawan sukmo lelono bertemu punakawan dan semar. Walau sudah berbentuk sukma, semar dan punakawan mengenalinya. Saat itu mayat sadewa ditemukan menggeletak setelah di sobek oleh kuku lalu dilempar jauh jauh oleh werkudoro. Saat itu segera sadewa disembuhkan dengan kesaktian semar.
Kedatangan begawan sukmo lelono langsung disambut dengan geraman dorna. Dorna meminta begawan keluar dan menunggu keputusan di alun-alun hastina. Sementara di dalam istana dorna meminta kepada pandawa menghabisi nyawa sang begawan. Pandawa setuju.
Arjuna menghadapi sang begawan. Semua senjata coba digunakan, semua ajian di kerahkan bahkan ahirnya pasopati di hantamkan malah bebalik. Ahirnya arjuna mundur dan minta kakaknya werkudoro maju. werkudoro pun sama, mengalami kesulitan menghadapi begawan sukmo lelono.
Ahirnya prabu kresna jelmaan sasrawindu maju. Dan terjadilah adu kesaktian dengan begitu hebatnya. Saat itu macan hitam jelmaan tubuh ragawi sang kresna muncul dan menyergap prabu kresna jelmaan. Dan dalam sekejab macam hitam itu bersatu dengan begawan sukmo lelono. Maka terbentuklah kembali sosok kresna dan berdiri tegak dua sosok kresna di alun-alun hastinapura yang luas itu. Semua tak berkedip memandang.
Dua kresna beradu dan salah satu kresna jatuh kemudian mengeluarkan senjata cakra. Senjata cakra dilemparkan tapi justru kembali ketangan kresna satunya. Mengetahui kedoknya tak mungkin di samarkan lagi, kresna gadungan malih rupa jadi wujud aslinya, prabu sasra windu putra kangsa.
Kresna tampak mengambil jarak agar sang prabu tidak menggunakan senjata kemlandingan putihnya. Sasra windu yang merasa terancam mengeluarkan senjata andalanya dan ketika siap mengarahkan pusakanya, hanoman sang resi mayangkara datang dan menghantamkan batu sebesar bukit ke arah sasra windu. Sasra windu mati gepeng berurai menjadi darah.
Oleh kresna hanoman disuruh bertapa sambil menjaga pusaka kemlandingan putih untuk diserahkan kepada anak keturunan pandawa kelak. Semua tahanan dibebaskan, termasuk prabu baladewa, gatotkaca dan juga setyaki